Saat dunia, termasuk kita, sedang dilanda euphoria game Pokemon GO, ada derita di belahan dunia lain yang mungkin tidak kita sadari. Sebagian besar negara saat ini tengah menanti rilisnya Pokemon GO, namun tahukah kita jika anak-anak di wilayah perang seperti Suriah sedang mengharapkan datangnya bantuan?

Pasukan Revolusioner Suriah (RSF) baru-baru ini menggalakan kampanye dengan melibatkan anak-anak melalui media sosial. Kampanye tersebut memanfaatkan Pokemon GO yang tengah menjadi perhatian dunia.

Anak-anak Suriah ini mungkin tidak pernah mengenal sama sekali apa itu karakter Pokemon dalam gambar yang mereka pegang. Dengan memanfaatkan booming Pokemon GO, kampanye ini diharapkan bisa menarik perhatian dan kepedulian dunia terhadap penderitaan anak-anak korban krisis Suriah.

“Ada banyak Pokemon di Suriah. Datang dan Selamatkan aku!” Demikian pesan yang tercantum dalam foto seorang anak yang memegang gambar Pikachu.

s 1

Tidak kalah menyentuh, gambar lainnya mencantumkan tulisan, “Aku adalah Pokemon di Idlib, Suriah. Maukah kau datang dan menyelamatkanku?” Pesan serupa juga disampaikan dalam foto-foto lainnya.

s 2

Seorang desainer grafis Suriah, Said Aldeen Tanhan juga menggambarkan seperti apa kehororan negaranya yang hancur akibat kerusuhan dan perang tersebut. Ia memposting berbagai foto yang menampakkan tragisnya kondisi Suriah dengan logo editan “Syria GO”.

s 3

Said Aldeen Tanhan menjelaskan, “Aku menciptakan gambar-gambar ini sebagai cara untuk mengalihkan perhatian pada perang Suriah, dan fokus pada warga-warga Suriah yang menderita dibandingkan Pokemon yang tengah digilai semua orang.”

Kepada Al Arabiya, ia mengatakan, “Dunia telah sangat terobsesi dengan game ini, sehingga aku berkata pada diriku mengapa aku tidak menggunakannya sebagai media untuk menyampaikan penderitaan kami.”

Suriah selama lima tahun terakhir terus dilanda konflik politik, perang saudara hingga terorisme. Menurut organisasi sosial Save the Children, krisis yang melanda Suriah merupakan bencana kemanusiaan terburuk di era modern. Lebih dari seperempat juta anak harus hidup dalam kengerian, sementara jutaan orang terpaksa meninggalkan tanah air mereka.

Sumber: The Telegraph

hosting indonesia