Pemerintah Tokyo baru saja merilis data mengenai penurunan angka tuna wisma di ibukota. Namun, berbeda dengan yang dilaporkan pemerintah, studi lain membuktikan bahwa angka tuna wisma di Tokyo ternyata masih lebih tinggi dari apa yang terlihat.

Pada 16 Mei, Pemerintah Metropolitan Tokyo menyatakan bahwa ada 744 tuna wisma yang tinggal di taman, pinggir jalan dan sekitar stasiun kereta di 23 Ward selama musim dingin per Januari lalu. Angka itu disebut sebagai rekor terendah sekaligus turun 34 angka dari musim dingin sebelumnya.

Penurunan ini disebut sebagai hasil dari kebijakan pemerintah dalam membantu para tuna wisma untuk hidup secara mandiri dan menemukan pekerjaan. Jumlah tuna wisma mengalami penurunan di 13 dari 23 Ward dengan penurunan tertajam terjadi di Chiyoda Ward (dari 128 menjadi 88 tuna wisma).

Sementara itu, Shibuya Ward tercatat memiliki jumlah tuna wisma tertinggi sebanyak 107 orang (naik 18 angka dari tahun sebelumnya), disusul oleh Shinjuku Ward dengan 97 tuna wisma (naik 27 angka). Menurut pemerintah, banyak tuna wisma di Tokyo yang menolak untuk menerima bantuan. “Orang-orang itu, dan mereka yang memiliki masalah kesehatan mental, sangat sulit dijangkau. Mereka bahkan tidak mau berbicara kepada petugas yang menawarkan mereka bantuan,” kata seorang pejabat pemerintah.

Bahkan, temuan lain dengan jangkauan wilayah yang lebih luas menunjukkan jumlah tuna wisma di Tokyo mencapai total 1,473 orang. Takuya Kitabatake, kepala Advocacy and Research Center for Homelessness (ARCH) menyebut temuan tersebut sebagai peringatan dan mereka meminta pemerintah untuk menangani masalah ini dengan serius.

Hampir bersamaan dengan survey pemerintah, ARCH juga mengadakan survey mereka sendiri di Shibuya, Shinjuku dan Toshima Ward. Secara keseluruhan, jumlah tuna wisma di tiga lokasi tersebut ternyata mencapai angka 671 jiwa, hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari data pemerintah.

Menurut Takuya Kitabake, ada perbedaan mencolok antara jumlah tuna wisma yang terlihat pada siang dan malam hari. Pemerintah Tokyo juga tidak menampik adanya jumlah tuna wisma yang tidak tercatat di siang hari. Oleh karena itu, angka tuna wisma yang sebenarnya bisa jadi lebih tinggi dari perhitungan studi.

ARCH merupakan kelompok yang terdiri atas peneliti dan pekerja sosial yang berpengalaman dalam mengamati masalah tuna wisma di Jepang. Kelompok advokasi ini didirikan tahun lalu dan bertujuan untuk membantu para tuna wisma di sekitar dan luar Tokyo. ARCH khawatir jika persiapan berskala besar untuk Olimpiade Tokyo 2020 nanti akan membuat para tuna wisma semakin terpinggirkan.

Selain kebijakan pemerintah, ARCH juga mengingatkan bahwa dukungan dan kepedulian masyarakat sekitar juga tidak kalah pentingnya. Takuya Kitabake berkata, “Saya yakin sistem dukungan pemerintah yang lebih baik itu dibutuhkan, tetapi saya juga berharap agar masyarakat lebih peduli terhadap (tuna wisma) yang ada di sekitar wilayah mereka tinggal.”

Sumber: The Japan Times

hosting indonesia