Jepang mengalami peningkatan kasus “karoshi”, kematian akibat jam kerja berlebih. Karoshi merupakan fenomena yang umumnya terjadi pada pegawai berusia muda dan wanita. Berdasarkan data kementerian, klaim untuk kompensasi atas karoshi mencetak rekor dengan 1,456 klaim selama Maret 2014 – Maret 2015. Sebagian besar kasus terjadi di area yang mengalami kekurangan tenaga kerja seperti kesehatan, layanan sosial, perkapalan dan konstruksi.

Menurut Hiroshi Kawahito dari National Defense Counsel for Victims, angka itu mungkin bisa 10 kali lipat lebih tinggi karena pemerintah enggan mengakui insiden tersebut. Kawahito yang telah menangani berbagai kasus karoshi sejak 1980-an mengungkap, 95% kasus biasanya terjadi pada pria paruh baya yang bekerja di kantor. Tetapi kini, kasus terjadi pada sekitar 20% wanita.

Jepang tidak memiliki aturan legal untuk membatasi jam kerja, tetapi kementerian tenaga kerja mengakui adanya dua tipe karoshi. Pertama, kematian akibat penyakit jantung yang berhubungan dengan jam kerja berlebih. Kedua, kematian karena bunuh diri akibat tekanan mental terhadap pekerjaan.

Kematian akibat penyakit jantung dianggap sebagai karoshi apabila pegawai telah menjalani 100 jam lembur selama satu bulan sebelumnya, atau melampaui 80 jam lembur dalam dua bulan atau lebih selama kurun waktu enam bulan sebelumnya. Sedangkan kasus bunuh diri bisa dikategorikan karoshi apabila pelakunya menjalani 160 jam kerja lembur atau lebih selama satu bulan sebelumnya, atau di atas 100 jam lembur dalam tiga bulan berturut-turut.

Menurut data kementerian, bunuh diri akibat pekerjaan meningkat sebesar 45% dalam waktu empat tahun terakhir. Kasus terjadi pada usia 29 tahun atau di bawahnya, dan meningkat 39% pada wanita.

Pada 2015, pegawai temporer mengisi 38% porsi tenaga kerja, naik sebesar 20% pada 1990 (68% adalah wanita). Menurut pengacara dan akademisi, beberapa perusahaan awalnya menawarkan posisi full-time dengan jam kerja yang masuk akal. Tetapi, pada praktiknya, mereka menawarkan posisi tersebut kepada karyawan temporer yang bersedia bekerja lebih lama tanpa bayaran lembur.

Pelamar sebenarnya bisa menolak pekerjaan semacam itu karena tidak memberi upah lembur merupakan tindakan ilegal. Tetapi, beberapa perusahaan menjanjikan akan memberi kontrak tetap setelah pegawai bekerja selama enam bulan atau lebih. Pelamar berusia muda biasanya menerima begitu saja pekerjaan tersebut karena kurangnya pengalaman, sedangkan wanita menerima pekerjaan tersebut dikarenakan sulitnya mencari pekerjaan pasca melahirkan.

Sebagaimana diungkap Emiko Teranishi dari Family Dealing with Karoshi, beberapa perusahaan memberi pegawai baru bayaran dengan tambahan upah untuk 80 jam kerja lembur. Tetapi, pegawai harus memberi ganti rugi apabila mereka bekerja dengan jam kerja yang kurang.

Kasus semacam ini telah biasa terjadi selama 10 tahun terakhir. Media biasanya menyebut perusahaan semacam itu sebagai perusahaan “gelap”.

Hirokazu Ouchi, profesor Universitas Chukyo, menulis sebuah buku tahun lalu mengenai perusahaan gelap tersebut setelah beberapa mahasiswanya diperlakukan secara ilegal selama bekerja paruh waktu. Ouchi berkata, “Perusahaan akan mempekerjakan seseorang selama dua atau tiga tahun, tetapi mereka tidak memiliki niat menginvestasikan uang atau waktu mereka untuk memperhatikan pegawai.”

Jepang telah mengalami penurunan populasi usia kerja sejak pertengahan 1990-an. Kondisi ini seharusnya mendorong perusahaan untuk berbenah agar bisa menarik lebih banyak pekerja. Tetapi, hal tersebut nyatanya tidak terjadi.

Ouchi menambahkan, “Ini merupakan cara untuk menekan biaya tenaga kerja, tetapi ini juga sekaligus menjadi jalan menuju kematian akibat jam kerja berlebih.”

Sumber: JapanToday

hosting indonesia