aktivisSebuah koalisi kampanye dan pengacara hak asasi di Jepang menggelar konferensi pers pada 3 Maret. Tujuan dari konferensi tersebut adalah untuk mendesak pemerintah bersikap tegas terhadap industri film porno yang kian meresahkan.

Salah satu yang paling disorot dalam konferensi tersebut adalah hasil penelitian mengenai eksploitasi dan kekerasan terhadap wanita. Meskipun sangat berkembang di Jepang, sisi gelap industri film porno, terutama orang-orang yang bekerja di dalamnya, sangat jarang didiskusikan.

Faktanya, selama empat tahun terakhir telah terjadi 130 kasus dimana korban, yang sebagian besar wanita muda, meminta perlindungan setelah mengalami kekerasan seksual. Kejahatan yang dilaporkan salah satunya adalah pemaksaan untuk melakukan hubungan intim secara berulang tanpa perlindungan.

Ironisnya, industri ini semakin mengintai generasi muda sebagai mangsa. Korban biasanya direkrut oleh agen yang berpura-pura mencari model. Saat korban sadar dan ingin membatalkan kontrak, mereka akan diancam dengan gugatan hukum. Dalam salah satu kasus tahun lalu, Pengadilan Distrik Tokyo menolak gugatan produsen film porno terhadap seorang korbannya.

Yukiko Tsunoda, salah satu pengacara dalam konferensi, berkata, “Para wanita ini dipaksa untuk tampil dalam film yang sedemikian melecehkan di luar keinginan mereka.”

Para aktivis dan pengacara tersebut juga memperingatkan, saat ini semakin banyak wanita muda, terutama di usia 20 tahun-an, yang telah meminta perlindungan kepada mereka. Bahkan terdapat kasus dimana salah satu korban akhirnya memutuskan untuk bunuh diri setelah dipaksa menandatangani kontrak.

“Tampaknya, banyak yang berasumsi bahwa para wanita ini setuju untuk tampil dalam film porno,” kata Hiroko Goto, seorang profesor hukum di Universitas Chiba. “Tetapi, mereka terkadang masih di bawah umur dan sering kali adalah wanita di usia 20 tahun-an. Mereka dimangsa oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dan uang.”

Para advokat hak asasi tersebut menuntut agar pemerintah Jepang memperkuat undang-undang untuk menghentikan segala bentuk eksploitasi wanita dalam film porno.

Industri film porno di Jepang menghasilkan 2,000 film dan 500 milyar yen (57,5 triliun rupiah) setiap tahun. Yang memprihatinkan, banyak orang yang membeli film-film tersebut hanya untuk hiburan semata tanpa pernah memahami sisi menyedihkan di baliknya.

sumber: japantoday.com
Gambar:Via clipartbest.com

hosting indonesia