hijab
Wanita non-Muslim mencoba berhijab di acara “A Day in Hijab” di Tokyo

Tidak bisa dihindari, berkembangnya paham ekstrimis belakangan ini turut memberi dampak pada wanita Muslim. Kesalahpahaman terhadap Islam kerap kali membuat wanita berhijab ikut menjadi korban. Bagi beberapa kaum feminis, hijab bahkan telah lama disebut sebagai simbol penindasan terhadap wanita.

Untuk menghapus stigma negatif tersebut, sekelompok Muslimah di Jepang berupaya mempromosikan hijab dan busana Muslim sebagai media agar masyarakat Jepang dan muslim bisa saling bertukar pikiran. Dibandingkan sebagai penindasan, mereka berusaha meyakinkan bahwa penggunaan hijab sesungguhnya merupakan bentuk perlindungan dan kerendahan hati wanita.

Pada akhir Januari, sekitar 100 orang berkumpul di Tokyo Camii, salah satu masjid terbesar di Jepang, untuk mencoba pengalaman memakai hijab dalam acara “A Day in Hijab” (“Sehari Berhijab”).

Seorang wanita muslim dari Maroko berkata kepada peserta acara, “Dalam agama kami, menutup seluruh bagian tubuh selain wajah dan tangan merupakan perintah dari Tuhan. Oleh karena itu, memakai hijab merupakan bentuk ibadah bagi kami. Ketika kami mengenakan hijab, kami merasa percaya pada diri kami sendiri dan dihargai oleh orang lain.”

Acara A Day in Hijab diselenggarakan oleh empat muslimah berusia antara 20 hingga 30 tahun-an yang tinggal di Jepang. Salah satu dari mereka, Arisa Sakamoto (23), saat ini bekerja di sebuah perusahaan di Tokyo. Sebelum memeluk Islam, Sakamoto mengaku bahwa dia sering menggunakan pakaian mini.

Sakamoto menjadi mualaf saat berada di tahun akhir universitas dan tengah menempuh studi Melayu. Sakamoto mengungkap, dia tertarik dengan Islam karena Islam mengajarkan prinsip toleransi dan sikap positif dalam menghadapi kesulitan.

Orangtua Sakamoto sempat merasa khawatir apabila hijabnya akan menjadikannya sebagai target kekerasan. Tetapi, setelah melihat Sakamoto sangat mematuhi keyakinannya dan menunjukkan sikap hormatnya terhadap orangtua, ibunya mulai berubah pikiran dan justru kini ikut membantu Sakamoto memilihkan baju yang cocok untuk hijabnya.

Saat mengenakan hijab di luar, Sakamoto kerap bertegur sapa dengan muslim lainnya. Bahkan hijabnya dipuji cantik oleh masyarakat Jepang. Tetapi, untuk sementara ini, Sakamoto belum memakai hijab saat bekerja.

Sakamoto berkata, “Aku ingin menggunakan hijab di kantor, tetapi itu masih sulit karena hanya ada sedikit Muslim disana. Aku rasa hal pertama yang harus aku lakukan adalah aku perlu meningkatkan pemahaman terhadap Islam melalui sikapku.”

Non-Muslim Jepang belakangan ini semakin menunjukkan minat yang besar terhadap fashion Islami. Bahkan, separuh dari peserta A Day in Hijab merupakan non-Muslim. Ayano Oki (22), seorang mahasiswa dari Mitaka mengaku, dia mengetahui acara tersebut melalui Facebook dan akhirnya memutuskan untuk berpartisipasi bersama seorang temannya.

Oki berkomentar, “Aku dulu percaya bahwa wanita Muslim dipaksa untuk menggunakan hijab, itu mengapa aku terkejut mengetahui bahwa (memakai hijab) adalah masalah pilihan pribadi. Acara ini merupakan kesempatan yang baik bagiku (untuk mempelajari Islam) karena aku sama sekali tidak memiliki teman Muslim.”

Penyelenggara acara lainnya, Okamoto Amma Balouch (22), terkejut mengetahui tingginya minat terhadap A Day in Hijab dan bagaimana banyaknya orang yang ingin mempelajari lebih dalam tentang Islam.

“Siapapun yang berhijab tidak merasa tertindas atau terpaksa, dan mereka tetaplah sama dengan wanita lain yang dipenuhi harapan dan impian,” kata Okamoto. “Aku percaya bahwa peserta akan memahami poin itu.”

Sementara itu, sekelompok warga Jepang lainnya juga tengah berupaya mempromosikan pakaian muslim sebagai item fashion.

Shinichi Orita (37), mantan guru yang kini tengah menempuh studi pasca sarjana di Universitas Keiko, telah membangun Japan Muslim Fashion Association pada April 2015. Asosiasi tersebut bertujuan untuk memberi dukungan kepada perusahaan Jepang yang memproduksi busana muslim berbasis kimono dan bahan tradisonal Jepang lainnya. Selanjutnya, produk tersebut akan diperkenalkan oleh Asosiasi ke dunia Islam.

Saat masih menjadi guru, Orita merasa tidak nyaman dengan kurangnya pemahaman guru lainnya terhadap pelajar Muslim. Sebagai bagian dari penelitiannya, Orita mengunjungi Indonesia, negara yang hampir 90% penduduknya beragama Islam. Menurut Orita, Jepang harus mampu menyediakan program pendidikan yang dapat merespon globalisasi.

Orita saat ini tengah mengusulkan dikembangkannya produk baru yang mengkombinasikan bahan tradisional Jepang dan pakaian Muslim.

“Di masa depan, aku ingin membawa praktik bisnis ke bidang pendidikan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Jepang terhadap Muslim,” kata Orita.

Sumber konten dan foto: ajw.asahi.com

hosting indonesia