workerSetelah melepas karir mereka untuk membesarkan anak, para ibu rumah tangga di Jepang kini kembali mencari kesempatan untuk bekerja dengan mengikuti training khusus.

Pada 2008, Universitas Kwansei Gakuin membuka sebuah program untuk memberi pelatihan kerja kepada ibu rumah tangga. Wanita dengan gelar sarjana berusia antara 20-50 tahun-an bisa mengikuti “Happy Career Program”. Sebanyak 60% dari murid adalah ibu rumah tangga.

Banyak di antara mereka berhenti bekerja setelah melahirkan, tetapi kini mereka berharap untuk bisa bekerja lagi. Hingga kini, banyak lulusan dari program tersebut yang telah memperoleh pekerjaan.

Noriko Katsuda (51) mulai bekerja sejak 2012 sebagai penasihat karir setelah menyelesaikan program. Katsuda sebelumnya bekerja di perusahaan farmasi dan surat kabar, tetapi berhenti bekerja setelah hamil. Selama 14 tahun, Noriko menjadi ibu rumah tangga dan dia mengungkap bahwa dia selalu iri melihat orang lain bekerja.

Katsuda berkata, “Pekerjaan ini membuatku bisa bertemu dengan orang-orang di lingkungan yang lebih luas lagi. Ini berharga.”

Chika Shima, yang menjadi ibu rumah tangga selama 16 tahun setelah berhenti dari perusahaan dagang, menemukan pekerjaan lagi di bidang keuangan dan akuntansi di sebuah importir peralatan elektrik.

Japan Women’s University di Tokyo juga membuka program serupa pada wanita muda yang belum memiliki pekerjaan tetap. Universitas ini menawarkan program selama satu tahun untuk mempelajari bahasa Inggris, dan manajemen teknologi informasi dan risiko.

Seorang wanita berusia 33 tahun yang mengikuti program ini mengatakan bahwa dia telah mempelajari psikologi di kampus dan kemudian bekerja untuk sebuah restoran. Setelah berhenti dari restoran, dia mendapat posisi sebagai pekerja kontrak. Dia berkata, “Aku ingin mendapat keahlian untuk menjadi pegawai penuh.”

Mako Takato, kepala pusat pelatihan universitas, mengatakan bahwa ada permintaan yang tinggi terhadap program ini di kalangan wanita yang memiliki pekerjaan kontrak dan belum pernah bekerja sebagai pegawai penuh. Takato berkata, “Perlu ada rencana yang mendukung seluruh wanita yang ingin mencoba usaha lain.”

Sumber: JapanToday

hosting indonesia